TIBA di Gallieni, Porte de Bagnolet, daerah barat Paris pukul 06:30 waktu paris (sekitar 5 jam-an lebih lama dari indonesia barat) setelah melakukan perjalanan selama 6,5 Jam dari Kota Aachen, Germany. Masih gelap, saat summer memang matahari lebih lama muncul di pagi hari, kira-kira fajar muncul pukul 07:00 an… Sedangkan gelap lebih lama pula datang, pukul 20:00 an matahari baru tenggelam..

Bawaan tas yang cukup berat menjadi beban tersendiri, hanya semangat lah yang membuat nya menjadi ringan. Maklum, Paris Prancis adalah kota/negara ketiga yang ingin sekali saya kunjungi setelah Mekkah Arab Saudi dan Jerman. Jadi saat melihat kota paris, hati ini langsung sumringah, senangnya luar biasa… unbelievable.. ;) Tentu yang pertama dilakukan adalah mencari tempat tinggal hanya untuk semalam… Saya putuskan untuk menginap di Hostel khusus untuk pemuda yang memiliki jaringan internasional.. Kebetulan saya member dari International Hosteling.. Jadi yah murah meriah, toh cuman tidur semalam… Hanya 25 euro. Memang kalo dilihat dari fasilitasnya, Youth Hostel di Jerman lebih baik daripada disini. Tapi bagi saya, tetap mewah apalagi bukan bayar pake uang pribadi.. hehe…

Tiba di hostel, langsung berbenah, berbersih diri, dan langsung bersiap untuk menjelajahi kota Paris. Dengan berbekal 7 Euro saya mendapatkan tiket unlimited untuk semua armada transportasi Paris selama 2 hari. Saya mencoba menggunakan Subway Train menuju ke Palais Royal Musee du Louvre. Ada yang tau Museum Louvre? Kalo yang pernah menonton film  The Da Vinci Code pasti tau dengan museum ini. Museum yang menjadi area penyelidikan Profesor Longbottom di The Da Vinci Code ini ramai sekali, banyak turis asal jepang. Gak heran ada beberapa petunjuk informasiyang menggunakan bahasa jepang.

Saya menyempatkan untuk mengunjunginya dan memasuki seluruh bagian musem yang ternyata sangat luas ini. Harga tiket masuk sebesar 10 Euro. Mendapatkan peta denah museum. Walaupun sudah mendapatkan peta, tetap saja gedung meseum ini membingungkan. Saya masuk dari sebuha bagian keluar dari bagian yang laen tanpa terasa. Fyuhh tidak cukup satu jam atau dua jam untuk mengitari museum ini. Cerita lebih dalam tentang museum ini tunggu sesi yang berbeda.. okai!

Setelah memutari seluruh bagian museum, menyempatkan diri untuk mampir ke cafe, membeli dua potong roti (sebetulnya masih tetep pengen nyari nasi, tapi…malam ini harus dapat nasi di restauran indonesia!) ditambah dengan segelas capucino panas. Melepas lelah sejenak, pundak terasa pegal. Setelah itu keluar kembali ke piramida sebagai pintu masuk utama museum. Membeli beberapa oleh oleh miniatur menara eiffel (lebih murah ketimbang beli di area menara eiffel). Satu Euro dapat 5 miniatur menara Eiffel.

Setelah itu saya berjalan ke arah selatan menuju Sungai Seine (La Seine). Di tengah jalan, ada beberapa orang yang memberhentikan langkah orang-orang turis. Mereka tidak bisa mendengar alias Tuli. Sambil berbicara dengan menggunakan bahasa tangan mereka meminta sumbangan yang menurut saya caranya sedikit memaksa turis-turis disana. Saya sebagai orang yang pertama kali mengunjungi paris, tidak tau apa maksud dan tujuan mereka sesungguhnya, hanya saja saya berpikiran baik bahwa mereka sedang menggalang dana. Dengan menunjukan sebuah formulir dengan kop surat (yang saya tidakmengerti artinya, dengan bahasa perancis), mereka meminta sumbangan untuk kalangan mereka sebagai penyandang tuli. Yah, pasti sebagai warga indonesia dan sebagai orang yang tidak tau apa apa, adalah hal baik untuk bisa memberikan sedikit rejeki kita kepada mereka. Namun, saat saya membuka tas dan mengluarkan uang, saya berusaha mengatakan bahwa saya tidak memiliki uang kecil. Tanpa saya sadar bahwa mereka ternyata tau ada uang 200 Euro yang terselip di antara dokumen dokumen, wanita itu langsung mengambil uang di dompet saya. Pertama yang diambil adalah 50 Euro, saya langsung tegur dengan cara baik. Intinya bahwa jangan seperti itu tindakan mereka yang saya nilai tidak sopan. Saya ambil kembali uang 50 Euro dari tangan wanita mungil keturunan india pakistan itu. Ehhhh, dengan cepatnya tangan dia langsung menyambar uang 200 Euro yang ada di selipan dokumen saya. Sangat tidak sopan sebetulnya. Bukan hanya caranya tapi jumlahnya juga. Ini toh sumbangan, harusnya mereka menyerahkan keikhlasan dari pemberi. Saya berusaha untuk mengambil kembali. Tapi gadis ini ternyata pinta sekali, memanfaatkan ketidak mengertian mereka (yang tidak bisa mendengar) untuk cuek dengan “Marah” saya. Ntahlah apakah mereka betul betul tidak bisa mendengar atau berbohong. Wallahualam.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya marah dengan melontorkan bahasa kasar dalam bahasa inggris, tabu bagi saya mengeluarkan bahasa-bahasa kasar (inggris). Hanya mengenal bahasa-bahasa kasar itu, tak bermimpi bisa terlontar. Setelah mengambil, gadis dan beberapa temannya itu pergi meninggalkan lokasi dan bekumpul dengan teman temannya di tepian Sungai Seine. Saya yakin tindakan mereka ILEGAL, cara mereka yang berpindah-pindah ini membuktikan bahwa mereka berusaha menghindar dari polisi nasional Prancis.

Fyuh, 200 Euro lenyap begitu saya. Nominal nya memang tidak besar kalo dalam Euro. Tapi kalo di kalikan dengan kurs yang berlaku ke rupiah, pasti semua orang yang mengalaminya akan kesal dan jengkel.

Yasudahlah, inilah adalah pelajaran yang super berharga. Semenjak jam kejadian itu, perjalanan berikutnya saat ketemu teman temannya, saya langsung menolak dengan mengangkat tangan saya sebagai bentuk penolakan dengan tindakan mereka. Semoga hati ini ikhlas dan menemukan pelajaran dibalik teguran dari Allah. Innalillahi…

Saya pikir inikan negara Eropa yang terkenal dengan disiplin, keamanan yang baik apalagi Paris sebagai kota tujuan wisata. Di Indonesia saya pikir banyak yang seperti itu, tapi tidak sampai memaksa dengan tidak sopan mengambil uang secara langsung dari kantong orang lain.  Ternyata walaupun bangsa kita dinilai “miskin” tapi masih memiliki nilai-nilai etika dan nilai kepatutan umum… Wallahualam.

Saya mohon maaf jika judul tulisan ini menggunakan istilah “The Thief”. Saya kasih tanda petik agar maknanya menjadi khusus di mata saya sebagai pengalaman. Hal ini didasarkan penilaian pribadi saya yang menilai itu tindakan tak terpuji apalagi berbungkus donasi. Mudah mudahan saya yang salah menilai… wallahualam…

Mudah-mudahan bisa menjadi pengalaman bagi siapapun yang punya rencana ke Paris… Waspadalah! kejahatan datang karena ada kesempatan!! waspadalah! :D

emsa

10 September 2011

Paris, Prancis